Kamis, 17 Mei 2012

Tuntut Ilmu Sampai Negeri Cina


Soal:
Bagaimana kedudukan sebenarnya dua hadits berikut: Kebersihan adalah bagian dari iman dan Tuntutlah ilmu sampai di negeri Cina?

Jawab:
Dua hadits, ‘Kebersihan adalah bagian dari iman,’ dan, ‘Tuntutlah ilmu sampai di negeri Cina,’ adalah di antara sekian banyak hadits yang teramat akrab di telinga masyarakat kita, bahkan di telinga masyarakat Muslim dunia. Baik di kalangan terpelajar maupun di kalangan orang-orang awam, anak kecil maupun orang-orang dewasa.
Untuk menyukseskan program belajar digunakanlah hadits, ‘Tuntutlah ilmu sampai di negeri Cina.’ Untuk membangkitkan semangat nasionalisme digunakan hadits, ‘Cinta tanah air adalah bagian dari iman.’ Untuk program yang ada kaitannya dengan kebersihan digunakan ahdits, ‘Kebersihan adalah bagian dari iman.’ Untuk melegalkan perbedaan pendpaat digunakanlah hadits, ‘Perbedaan pendapat di antara ummatku adalah rahmat.’ Untuk menggiatkan semangat kerja dan ibadah digunakanlah hadits, ‘Bekerjalah untuk penghidupan duniamu seakan-akan engkau akan hidup untuk selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.’ Untuk memotivasi membacaa l-Qur’an digunakanlah hadits, ‘Tiap-tiap sesuatu itu ada jantungnya dan jantung al-Qur’an adalah Yasin, barangsiapa yang membacanya seolah-olah ia telah membaca al-Qur’an 10 kali.’
Hadits-hadits yang kami sebutkan di atas bukanlah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, melainkan kebohongan yang dibuat-buat dan dinisbatkan kepada Rasulullah. Untuk urusan ini, kita mesti berhati-hati karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menceritakan suatu hadits dariku yang ia ketahui bahwasanya itu dusta, maka ia termasuk golongan para pendusta.’ [HR. Muslim 1/9].
Andai bukan karena keterbatasan ruang, niscaya akan kami terangkan semua kedudukan hadits-hadits tersebut. Tetapi, dalam kesempatan ini kami hanya akan menjelaskan dua hadits yang telah kami sebutkan di awal pembahasan ini.

Kebersihan Sebagian daripada Iman
Kebersihan sebagian daripada iman’, bukan hadits!
Para ahli ilmu tidak menemukannya di dalam kitab-kitab hadits dan tidak pula menemukannya di dalam kitab kumpulan hadits-hadits palsu (maudhu’).
Ada yang serupa dengan ungkapan tersebut yaitu, ‘Kebersihan mengajak pada iman,’ sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam bukunya Talkhis al-Mutasyabbih fi ar-Rasm 1/2233-224, maka dia membawa sanadnya sampai kepada Abdullan bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Mencabut sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, maka sesungguhnya itu adalah kebersihan dan kebersihan itu mengajak pada keimanan dan iman akan berada di Syurga bersama orang yang beriman.’ Dalam sanad hadits ini ada Ibrahim bin Hayyan. Ibnu ‘Adi membuat biografinya dalam al-Kamil 1/253 dan dia menyebutkan bahwa hadits-haditsnya palsu (maudhu’) dan munkar.
Atau ungkapan serupa lainnya, ‘Agama itu dibangun atas dasar kebersihan’, seperti yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya ‘Ulmuddin 1/124. Namun, ungkapan ini dikomentari oleh al-Hafidz al-Iraqy, beliau berkata, ‘Saya tidak dapati hadits yang bentuknya sebagaimana tersebut ini.’ Ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa beliau menolak keberadaan hadits ini alias hadits ini adalah palsu.

Tuntulah Ilmu Sampai Negeri Cina
Tuntutlah ilmu walau di negeri Cina’, hadits bathil! Bukan ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dalam kitabnya 2/207, Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru al-Ashbahan 2/206, al-Khatib al-Baghdady dalam kitab at-Tarikh 9/364. Semua riwayat ini melalui jalan; al-Hasan bin ‘Athiyah. Tetapi, dalamsanadnya ada rawi yang bernama; Abu ‘Atikah dan ia termasuk rawi yangmatruk. Rawi inilah yang meriwayatkan dengan adanya tambahan ; Walau di negeri Cina. Imam al-Bukhari mengatakan, ‘Ia (Abu ‘Atikah) adalah munkarul hadits (suka meriwayatkan hadits-hadits munkar).’ An-Nasa’i berkata, ‘Bukan rawi kepercayaan.’ As-Sulaimany menggolongkannya sebagai orang-orang yang dikenal memalsukan hadits. [Untuk jawaban dan penilaian secara rinci silakan merujuk pada kitab adh-Dhaifah 1/416 karya Syaikh al-Albani].

Kesimpulan
  1. Dua hadits yang telah kita bahas di atas adalah hadits palsu, bukan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
  2. Setelah jelas kepalsuan dua hadits di atas, tidak bermakna bahwa seorang Muslim tidak diperintahkan menjaga kebersihan dan tidak pula dibebankan menuntut ilmu. Ada banyak ayat ataupun hadits shahih yang menerangkan demikian. Untuk kebersihan lihatlah QS. al-Baqarah ayat 222, sedang untuk menuntut ilmu lihatlah QS. al-‘Alaq ayat 1 dan QS. at-Taubah ayat 122.
  3. Tidak halal meriwayatkan apalagi mengamalkan hadits palsu. Adapun jika tujuan meriwayatkannya sebagai bentuk informasi kepada orang lain, lalu menerangkan kepalsuannya setelah meriwayatkan hadits tersebut, amka ahl itu diperbolehkan. Wallahu A’lam.

Abu Halbas Muhammad Ayyub
Jember 1413 H.

3 komentar:

Farlin Marion mengatakan...

Ijin copas syaikh untuk pos di blog, insya Allah kami akan menjaga sikap ilmiahnya dengan meyebutkankan sumber. syukron. Barakaallahu Fiik

Al-Burhan mengatakan...

barakallah, silahkan

Farlin Marion mengatakan...

Wafiik barakaallah..syukron

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan